LORA – Literasinya Orang Madura. Di suatu sore yang hangat, di tengah ruangan berantakan penuh buku, kertas-kertas yang tergeletak sembarangan, dan suara hujan ringan di luar jendela, Dinda duduk dengan wajah bingung. Sudah tiga jam ia mencoba memahami materi ujian yang akan dihadapinya minggu depan, tetapi rasanya seperti mencoba memecahkan teka-teki tanpa petunjuk yang jelas. Di sudut meja, ponselnya tergeletak dengan notifikasi yang terus berdenting, seolah dunia di luar sana tidak peduli bahwa Dinda sedang tenggelam dalam kekalutan. “Kenapa materi ini tidak bisa masuk ke otakku?” pikirnya, menatap layar komputer dengan lelah.
Dinda sebenarnya bukan siswi yang malas. Ia rajin, bahkan termasuk yang disiplin di kelas. Tapi entah mengapa, kali ini, semuanya terasa jauh lebih sulit. Teman-temannya sepertinya belajar dengan mudah—mereka bisa membaca buku pelajaran selama berjam-jam dan menyerap informasi seperti spons. Tapi tidak dengan Dinda. Membaca berulang kali, seolah-olah tidak ada satu pun kata yang benar-benar melekat di otaknya. Rasa frustasinya semakin bertambah ketika ia mencoba metode yang sama berulang kali, berharap ada perubahan, tapi tidak ada yang berubah.
Sampai suatu saat, di tengah kejenuhannya, ia memutuskan untuk menelepon temannya, Alia. Alia adalah tipe orang yang selalu punya solusi, entah itu untuk masalah besar atau kecil. Setelah beberapa menit bercerita tentang kesulitannya belajar, Alia bertanya, “Din, kamu yakin cara belajar kamu itu cocok buat kamu? Mungkin masalahnya bukan di materi, tapi di cara kamu belajar.”
Dinda terdiam. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa cara terbaik untuk belajar adalah seperti yang diajarkan di sekolah—baca buku, buat catatan, hafal, selesai. Tapi apa benar cara itu yang terbaik untuknya? Apa mungkin ada cara lain yang lebih sesuai dengan dirinya?
Memahami gaya belajar sendiri adalah salah satu kunci penting dalam keberhasilan proses belajar. Gaya belajar bukan hanya tentang seberapa keras seseorang berusaha atau seberapa lama mereka menghabiskan waktu untuk belajar. Gaya belajar adalah cara unik setiap individu dalam menyerap, mengolah, dan menyimpan informasi.
Ada banyak teori tentang gaya belajar, tetapi salah satu yang paling dikenal adalah teori VARK (Visual, Auditory, Reading/Writing, Kinesthetic). Teori ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki preferensi cara belajar yang berbeda—beberapa lebih suka melihat informasi secara visual, sementara yang lain lebih mudah memahami sesuatu dengan mendengarkannya, menulisnya, atau bahkan mengalaminya secara langsung. Mengetahui gaya belajar kita sendiri adalah langkah pertama dalam membuat proses belajar menjadi lebih efektif dan efisien.
Bagi sebagian orang, belajar dengan cara visual mungkin yang paling efektif. Mereka cenderung menyukai gambar, grafik, atau diagram untuk membantu mereka memahami konsep. Ketika mereka membaca teks yang penuh dengan angka atau teori abstrak, mereka mungkin merasa kewalahan. Namun, begitu informasi itu disajikan dalam bentuk peta pikiran atau gambar yang terstruktur, semuanya menjadi lebih jelas.
Sedangkan bagi mereka yang memiliki gaya belajar auditori, mendengarkan adalah kunci. Mereka lebih mudah memahami materi ketika mendengarkan penjelasan dari guru atau saat mereka merekam diri sendiri membaca catatan dan memutarnya kembali. Mereka sering kali lebih suka mendiskusikan materi dengan orang lain atau mendengarkan rekaman pelajaran daripada sekadar membaca.
Untuk pelajar yang memiliki gaya belajar membaca/menulis, cara paling efektif bagi mereka adalah melalui kata-kata tertulis. Mereka senang membuat catatan, merangkum informasi, dan membaca buku teks. Kata-kata menjadi alat utama mereka untuk memahami konsep yang rumit. Mereka sering kali lebih suka menulis ulang informasi berulang kali sebagai cara untuk menyerap pengetahuan.
Terakhir, ada pelajar kinestetik, yang membutuhkan pengalaman langsung untuk benar-benar memahami sesuatu. Mereka belajar dengan melakukan. Bagi mereka, belajar teori saja tidak cukup. Mereka membutuhkan aktivitas fisik, eksperimen, atau simulasi untuk benar-benar mengerti apa yang sedang mereka pelajari. Mereka cenderung lebih suka belajar melalui pengalaman atau dengan menerapkan pengetahuan mereka dalam kehidupan nyata.
Kembali ke cerita Dinda. Setelah mendengar saran dari Alia, Dinda mulai berpikir. Mungkinkah selama ini ia salah cara belajar? Dinda pun mulai mencari tahu tentang berbagai gaya belajar, dan setelah membaca beberapa artikel, ia menyadari bahwa dirinya mungkin lebih cocok dengan gaya belajar kinestetik. Itu menjelaskan mengapa ia merasa frustasi saat hanya duduk diam dan membaca buku. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih aktif, sesuatu yang melibatkan gerakan atau praktik langsung.
Keesokan harinya, Dinda mencoba pendekatan yang berbeda. Ia mengeluarkan catatan-catatan lamanya, tetapi kali ini, bukan untuk dibaca berulang kali, melainkan untuk diubah menjadi tindakan. Ia mulai membuat simulasi kecil, mempraktikkan apa yang dipelajarinya, bahkan membuat permainan kecil dari materi yang ia pelajari. Dan hasilnya? Ia mulai merasakan perubahan. Materi yang sebelumnya terasa abstrak dan sulit dipahami mulai terasa lebih masuk akal. Dinda tidak lagi merasa kewalahan, dan lebih penting lagi, ia mulai menikmati proses belajarnya.
Bukan berarti semua masalah langsung hilang, tetapi ada perbedaan besar dalam cara Dinda menghadapi tantangan belajarnya. Alih-alih merasa frustrasi dan kewalahan, ia kini merasa lebih terarah. Mengetahui bahwa gaya belajarnya adalah kinestetik memberinya kebebasan untuk mencoba berbagai metode belajar yang lebih sesuai dengan dirinya. Ia tidak lagi memaksakan diri untuk mengikuti metode yang dianggap ‘standar’ oleh sekolah atau masyarakat, tetapi mencari cara yang paling cocok untuknya.
Mengetahui gaya belajar sendiri adalah langkah penting yang sering kali diabaikan. Banyak dari kita tumbuh dengan pandangan bahwa belajar adalah proses yang seragam—bahwa semua orang harus belajar dengan cara yang sama, mengikuti metode yang sama, dan akan mendapatkan hasil yang sama. Namun, kenyataannya tidak demikian.
Setiap individu unik, dan cara kita belajar pun unik. Apa yang efektif bagi satu orang mungkin tidak efektif bagi orang lain. Inilah mengapa penting untuk mengenali gaya belajar kita sendiri. Dengan mengenalinya, kita dapat menyesuaikan cara kita menyerap informasi, dan hasilnya, proses belajar akan menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan.
Hal ini tidak hanya berlaku untuk siswa di sekolah atau mahasiswa di perguruan tinggi. Bahkan orang dewasa yang sudah bekerja bisa mendapatkan manfaat dari memahami gaya belajar mereka. Di dunia yang terus berubah ini, belajar adalah proses seumur hidup. Dan semakin kita tahu tentang diri kita sendiri, semakin efektif kita dalam belajar dan berkembang.
Mengetahui gaya belajar sendiri adalah tentang memahami diri sendiri dengan lebih baik. Ini adalah tentang menghargai keunikan kita, dan tidak lagi membandingkan diri kita dengan orang lain. Ini adalah tentang menerima bahwa tidak ada satu pun cara yang ‘benar’ untuk belajar—yang ada hanyalah cara yang paling sesuai untuk kita.
Dinda akhirnya lulus dengan hasil yang memuaskan. Bukan karena ia belajar lebih keras dari sebelumnya, tetapi karena ia belajar dengan cara yang lebih cerdas. Ia tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk metode yang tidak efektif baginya. Ia belajar untuk bekerja dengan cara otaknya, bukan melawannya.
Dan di akhir hari, ketika Dinda duduk di kamar dengan buku terbuka di pangkuannya dan senyuman di wajahnya, ia menyadari bahwa perjalanan untuk memahami gaya belajarnya sendiri adalah salah satu hal terpenting yang pernah ia lakukan. Bukan hanya tentang nilai ujian atau prestasi akademis, tetapi tentang memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Tentang memberi dirinya kebebasan untuk belajar dengan caranya sendiri—dan dalam proses itu, menemukan kebahagiaan dan kepuasan dalam belajar.
Karena pada akhirnya, belajar bukan hanya tentang apa yang kita pelajari, tetapi tentang bagaimana kita belajar untuk menjadi diri kita yang terbaik.



