Menggagas Pesantren Kejuruan

LORA – Literasinya Orang Madura. Hari masih pagi ketika langit di atas desa Cikeruh mulai menguning, mencerminkan sinar matahari yang baru saja menyentuh puncak gunung di kejauhan. Embun pagi masih menggantung di daun-daun pepohonan, seakan-akan mengundang segala bentuk kehidupan untuk bangkit dari tidur malamnya. Di salah satu sudut desa, sebuah pesantren kecil berdiri kokoh, dikelilingi sawah yang hijau dan bukit-bukit yang seolah memeluknya dalam kehangatan. Di sanalah aku tiba, bukan sekadar mengunjungi tempat yang dihormati masyarakat setempat, tapi untuk melihat sebuah gagasan baru yang mulai tumbuh di balik tembok-tembok tua pesantren ini.

Bukan pesantren biasa. Bukan pula pondok dengan santri yang hanya belajar kitab kuning dari pagi hingga malam. Di sini, ide besar sedang dikembangkan. Sebuah pesantren kejuruan. Nama yang sederhana, tapi gagasannya teramat dalam. Mereka tidak hanya diajarkan agama, tetapi juga keterampilan hidup yang konkret. Mereka belajar cara bertahan dalam kehidupan dunia nyata, membekali diri dengan kemampuan yang relevan untuk zaman ini. Zaman yang tidak lagi memisahkan agama dan keterampilan praktis.

Pak Kiai yang memimpin pesantren ini, seorang pria tua yang berwajah teduh dan berjanggut putih, menyambutku dengan senyum hangat. Beliau bukanlah sosok yang terkenal di kota-kota besar. Namanya tidak tercatat dalam buku sejarah pendidikan nasional, tapi bagi warga desa ini, ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dengan tangan dingin, beliau telah mengasuh ratusan santri dari berbagai daerah, mendidik mereka bukan hanya dengan ilmu agama, tetapi juga dengan ketrampilan yang bisa menjadi bekal hidup setelah mereka meninggalkan pondok ini.

“Bagaimana bisa terpikir untuk mendirikan pesantren kejuruan, Pak Kiai?” tanyaku saat kami duduk di beranda pesantren, ditemani secangkir teh hangat. Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Pak Kiai tertawa kecil, lalu menjawab dengan penuh kerendahan hati, “Saya hanya melihat kenyataan. Banyak santri setelah keluar dari pesantren kesulitan mencari pekerjaan. Mereka memiliki ilmu agama yang baik, tapi di dunia yang semakin modern ini, kadang ilmu itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lalu saya berpikir, mengapa tidak kami beri mereka keterampilan juga? Keterampilan yang bisa langsung digunakan untuk bekerja atau bahkan membuka usaha sendiri.”

Dari sana, gagasan itu tumbuh. Pesantren ini tidak lagi hanya menjadi tempat belajar mengaji, tapi juga tempat belajar bertani, beternak, menjahit, bahkan mempelajari teknologi sederhana. Santri-santri di sini tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga mahir mengoperasikan mesin pertanian, merangkai rangkaian elektronik sederhana, atau membuat desain pakaian yang mereka jual di pasar lokal. Semuanya berpadu dalam harmoni—antara ilmu agama dan ilmu kehidupan.

“Kami tidak ingin santri-santri kami hanya jadi mubalig di masjid atau menjadi guru ngaji saja. Itu mulia, sangat mulia. Tapi kami juga ingin mereka punya pilihan lain. Bisa menjadi petani modern, bisa jadi pengrajin yang mandiri, bahkan kalau bisa menjadi wirausahawan,” lanjut Pak Kiai dengan sorot mata penuh semangat.

Beliau kemudian mengajakku berkeliling melihat aktivitas para santri. Di salah satu ruangan, beberapa santri duduk di depan meja kayu panjang, di atasnya terpajang kain-kain berwarna-warni dan mesin jahit yang sederhana. Mereka sedang belajar menjahit pakaian. Ada yang tengah mengukur kain, ada yang sedang memotong, dan ada yang sibuk menjahit dengan teliti.

“Saya dulu tidak bisa bayangkan kalau di pesantren ada mesin jahit,” ujar Pak Kiai sambil terkekeh. “Tapi lihatlah sekarang, anak-anak ini sudah bisa menghasilkan baju yang layak dijual.”

Di bagian lain, santri-santri lain sedang mengolah lahan di belakang pesantren. Mereka menanam sayur-mayur, merawat tanaman padi, dan mengembangkan sistem irigasi sederhana. Bahkan ada peternakan kecil di belakang pesantren. Tidak hanya ternak ayam atau kambing, tetapi juga ikan lele yang dipelihara dalam kolam buatan. Hasilnya? Sebagian untuk kebutuhan pesantren, sebagian lagi dijual di pasar terdekat.

“Pesantren ini seperti miniatur dunia,” gumamku dalam hati. Di sini, santri-santri belajar bagaimana bertani dengan teknologi tepat guna, memelihara hewan, mengolah hasil pertanian, sekaligus belajar berbisnis kecil-kecilan. Semua itu dilakukan sambil tetap memegang teguh ajaran agama.

Namun, gagasan pesantren kejuruan ini bukan tanpa tantangan. Tidak sedikit yang meragukan, bahkan mencemooh di awal. Ada yang berkata bahwa ini bukan tugas pesantren, bahwa pesantren seharusnya fokus pada pendidikan agama saja. Tetapi, Pak Kiai tetap teguh pada pandangannya. Beliau percaya bahwa di dunia modern ini, agama dan keterampilan harus berjalan beriringan. Santri harus bisa menjadi mandiri, mampu berkontribusi dalam masyarakat bukan hanya dari sisi spiritual, tetapi juga dari sisi ekonomi.

“Saya ingat dulu banyak yang tidak setuju,” kata Pak Kiai mengenang masa-masa sulit saat memulai gagasan ini. “Mereka bilang, ‘apa jadinya pesantren kalau santrinya malah belajar menjahit atau bertani?’ Tapi saya bilang pada mereka, ilmu agama itu harus diamalkan, dan salah satu cara mengamalkannya adalah dengan mandiri. Bagaimana kita bisa membantu orang lain kalau kita sendiri masih bergantung?”

Kini, pesantren ini telah membuktikan diri. Beberapa alumni sudah membuka usaha kecil-kecilan di kampung halaman mereka. Ada yang menjadi petani sukses, ada yang membuka konveksi rumahan, ada pula yang menjadi teknisi sederhana. Semuanya kembali ke masyarakat, bukan hanya membawa ajaran agama, tetapi juga membawa keterampilan yang nyata dan berguna.

Di akhir kunjungan, saya bertanya pada salah seorang santri yang sedang menjahit. “Apa yang kamu pelajari di sini, selain agama?”

Santri itu tersenyum malu-malu, lalu menjawab, “Saya belajar bahwa hidup ini tidak hanya tentang mengaji, tapi juga tentang bekerja keras. Pesantren ini mengajarkan kami dua hal itu sekaligus.”

Jawaban sederhana, tapi sarat makna. Dalam dunia yang serba cepat berubah ini, keterampilan hidup menjadi semakin penting. Pesantren kejuruan ini bukan hanya menjawab kebutuhan zaman, tetapi juga mengajarkan bahwa menjadi santri tidak berarti terjebak dalam pola pikir yang sempit. Bahwa menjadi santri juga berarti siap menghadapi tantangan dunia modern dengan segala keterampilan yang dimiliki.

Saat aku meninggalkan pesantren itu, suara azan Maghrib mulai berkumandang dari masjid kecil di ujung jalan. Di bawah langit senja yang merah jambu, aku merenung. Mungkin inilah masa depan pendidikan pesantren di Indonesia. Bukan hanya tempat untuk mendalami ilmu agama, tetapi juga tempat untuk belajar keterampilan hidup yang nyata. Tempat di mana santri tidak hanya diajarkan untuk menjadi orang baik, tetapi juga orang yang bermanfaat bagi masyarakat di sekelilingnya.

Dan siapa sangka, gagasan besar itu dimulai dari sebuah pesantren kecil di pelosok desa Cikeruh, di bawah bimbingan seorang kiai sederhana yang memiliki visi besar. Aku pulang dengan hati yang penuh harapan, sambil merenungkan kemungkinan besar pesantren kejuruan seperti ini tersebar di seluruh pelosok negeri. Mungkin, inilah salah satu solusi terbaik bagi pendidikan di era modern ini.

0Shares
Scroll to Top